Our social:

Latest Post

Showing posts with label Budaya Banten. Show all posts
Showing posts with label Budaya Banten. Show all posts

Macam Pondok Pesantren dan Daftar Pondok Pesantren di Banten

Macam Pondok Pesantren dan Daftar Alamat Pondok Pesantren Di banten.

Menurut Wikipedia Pondok Pesantren Adalah: Sebuah Institusi pendidikan tradisional dimana siswa tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan guru yang biasa disebut kyai atau ustad, yang memiliki asrama sebagai tempat tinggal para murid, tempat belajar dan juga tempat ibadah yang terpusat.
lebih kurang seperti itu menurut wikipedia yang sedikit di edit oleh saya sendiri.

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia: Pesantren adalah asrama tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji dsb.

Secara garis Besar Pesantren terbagi menjadi 2:

1. Pesantren Salafiyah / Pesantren Salaf

kesederhanaan pesantren salafi

 

Pesantren salafiah atau pesantren salaf adalah pesantren tradisional yang biasanya dikelola oleh para Kyai langsung, pengajarnya pun kyai tersebut atau keluarganya juga para orang terdekat dan dipercaya yang telah memiliki ilmu yang mumpuni sehingga hubungan kyai dan juga guru-guru di pesantren salafi ini cukup dekat secara emosional mungkin juga secara spiritual.
Pesantren Salafi identik dengan kitab kuning, atau kitab gundul, atau kitab kuna yaitu kitab yang tidak ada jabar jer (jereh wong serang meh) tidak ada harakat ataupun maknanya, sehingga kita harus belajar cara membaca dan memaknainya.
inilah istimewanya pesantren salafi, seorang murid harus mulai dari awal yaitu mempelajari ilmu alat (kitab-kitab rumus dan kitab tata bahasa, seperti nahwu, sorof, bahar, nadom, mantiq dll) agar murid tersebut bisa membaca, memaknai dan mengerti kitab kuning yang akan diajarkan.

kitab Kuning yang diajarkan di pesatren salafi mencakup beberapa disiplin ilmu, diantaranya: Tauhid, Fiqh, Aqidah, Ahlak (tassawuf), hadist, tafsir, muamalah bahkan ilmu siyasah (politik).

mengaji kitab kuning


Tiap Pesantren salaf memiliki karakteristik masing-masing, ada yang lebih menonjolkan ilmu fiqh, ada yang menonjolkan ilmu tafsir, ada yang menonjolkan ilmu tasawwuf dll meski setiap disiplin ilmu dipelajari disini.
Sistem belajarnyapun terbagi diantaranya: Balagan, Sorogan, Bandungan, wetonan, pasaran, dll

cara hidup santri salaf dilatih mandiri serta kolektif sesama teman sekamar ataupun satu pesantren terlihat dari cara mereka masak, yaitu masak sendiri secara bergantian dan makan bersama.




 


Berikut Diantara Alamat Pesantren Salafi di Serang Banten:

  • Ponpes Cidahu Pandeglang
Adalah Pondok pesantren yang didirikan oleh alm. Abuya Dimyati  yang merupakan salah satu ulama terkenal dan berpengaruh di Banten.
dan sekarang dikelola dan diteruskan oleh anaknya Abuya Muhtadi.

  • Ponpes Bani Ali Cikaduen, 
  • Ponpes Bani Rusydi Annawawi
  • Al-Iqtishad Cikedal
  • Jauharotun Naqiyah  
  • Pesantren Ki Ahmad Grujugan
  •  Pesantren Pelamunan
dan masih banyak lagi yang belum disebutkan ( Mohon komentar yang mempunyai info lengkap)



2. Pesantren Modern

Pesantren Modern kebalikan dari pesantren salafi, Pesantren moderen adalah pesantren yang dikelola secara modern yang mengikuti kurikulum pemerintah (terdapat pelajaran umum seperti matematika, bahasa, fisika dsb) meski lebih menitik beratkan pada sisi pelajaran agama.

Pengajarnya pun bervariasi bisa dari mana saja, bisa lulusan kulihan, bisa juga lulusan pesantren,  

dan tentu tidak ada (atau jarang atau kurang) kitab kuning diajarkan disini.
hubungan guru dan murid beda dengan pesantren salaf yang lebih dekat secara emosional (mungkin juga spiritual), di pesantren modern hubungan guru dan murid bersifat formal,

 Berikut diantara Pesantren Modern:
  • Assafiiyah
  • Assa'adah
  • Al Mubarok
  • Darunnajah
  • dar el Qolam
dsb (mohon ditambahkan bagi yang memiliki info)









oke sekian dulu ulasan dari saya..
monggo, los arep didokon ning ndi anak e tinggal pilih... 


Gambar dari berbagai sumber



Panjang Maulid- Ngeropok

Panjang Maulid, Panjang Mulud, Muludan


Terlepas dari kontroversi sebagian muslim yang mencap peringatan Maulid Nabi Muhammad sebagai sebuah bentuk Bid'ah. (tulisan ini tidak membahas dari segi ini)
Hampir setiap muslim di Indonesia atau bahkan didunia memperingati acara kelahiran atau maulid nabi Muhammad Saw ini. manusia termulia yang syafaatnya kita harapkan, semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau.. amin...

Di Banten khusunya di tempat kelahiran saya Desa mesjid Priyayi, terdapat sebuah tradisi dalam menyambut maulid Nabi Muhammad Saw,  yaitu memperingatinya dengan sebuah perayaan yang dinamakan Panjang Maulid, yaitu masakan nasi dan lauk-pauk yang di tempatkan pada sebuah bakul besar dilengkapi dengan hiasan bisa berupa telur atau hiasan -hiasan lain.
atau tradisi dikampung lain adalah mengisi panjang maulid dengan beras, sarden, kopi, teh, gula, minyak dan bahan-bahna sembako lainnya.
yang kemudian dikumpulkan di dalam halaman masjid untuk dilakukan do'a bersama dan juga sholawat bersama dengan melantunkan syair-syair Barzanzi dan Marhabaa untuk memuliakan dan menghormati dan berterimakasih atas jasa Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah mengenalkan islam kepada kami semua. amin..








Tradisi Panjang Maulid ini hampir sama dengan tradisi Gerebeg Maulid, dalam gerebeg maulid gunungan tumpeng ( panjang maulid ) tersebut hanya dibuat oleh kalangan kraton.
dalam tradisi kami setiap rumah warga membuat Panjang maulid tersebut sesuai kemampuannya.

Ngeropok

Ngeropok adalah istilah untuk warga masyarakat yang menghadiri acara maulid atau yang mengambil berkat atau yang berebut panjang maulid.

sebenarnya istilah ini awalnya untuk anak kecil yang biasa berebut panjang maulid.






Gambar dari Google




Ya Lail



Kesenian tradisional ya lail / yalil adalah kesenian banten yang masih ada sampai saat ini. Meski pun jarang..
kesenian ini biasanya dilakukan pada saat acara pernikahan, ya lail biasanya di baca saat buka pintu (palang pintu) yaitu mempertemukan kedua mempelai pengantin, Ya lail merupakan salah satu kesenian yang bernafaskan islam yang sampai sekarang masih ada dan merupakan adat yang biasa digunakan pada saat acara pernikahan. Kegiatan ini kurang lebih 30 menit, jumlah permainan 2 sampai 8 orang, pada saat pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita maka saat itulah dilakukan buka pintu yaitu melakukan tanya jawab perwakilan pengantin pria dengan perwakilan pengantin wanita dengan menggunakan bahasa arab.

Yalil
(ya lail) adalah sejenis lagu yang tidak memakai iringan terbang atau ketimpring. Lagu-lagu tersebut adalah :
1. Qulun, menggunakan oktaf tujuh tingkatan (pitung surungan)
2. Sondol, daftar monotne dengan tidak memakai surungan
3. Bayati, menggunakan sempat tingkat nada (patang surungan)
4. Raqbi, lima tingkat nada (limang surungan)
5. Sikah, (dengan perkembangan sikah jadid dan hamroh) masing - masing tiga atau empat tingkatan nada lagu
6. Husaini, empat tingkat nada
7. Rasydi, empat tingkat nada
8. Yamman Hijaj, dua tingkat nada
9. Hadral maut, monotune, tanpa angkatan nada.



ya begitulahkira-kira gambaran ya lail... bagi orang serang banten asli mungkin sudah familiar dengan tradisi yang satu ini.

Perjanji - Barzanji

Kesenian Perjanji - Barzanji

Perjanji atau Barzanji adalah salah satu kesenian Banten yang sampai sekarang masih banyak dilakukan terutama di wilayah Serang Banten.



Perzanji atau Barzanji adalah melafalkan Bacaan atau Sholawat Marhabaa yaitu sholawatan nabi biasanya dilakukan pada acara-acara tertentu, seperti Maulid Nabi, Perayaan kelahiran Anak, Aqiqah, ataupun perayaan lain..
Di masjid-masjid perkampungan ataupun di rumah-rumah warga, biasanya orang-orang duduk bersimpuh melingkar. Lalu seseorang membacakan Berzanji, yang pada bagian tertentu disahuti oleh jemaah lainnya secara bersamaan. Di tengah lingkaran terdapat nasi tumpeng dan makanan kecil lainnya yang dibuat warga setempat secara gotong-royong. Terdapat adat sebagian masyarakat, dimana pembacaan Berzanji juga dilakukan bersamaan dengan dipindah-pindahkannya bayi yang baru dicukur selama satu putaran dalam lingkaran. Sementara baju atau kain orang-orang yang sudah memegang bayi tersebut, kemudian diberi semprotan atau tetesan minyak wangi atau olesan bedak. ataupun di rumah-





 

ternyata  kesenian Barzanji tidak hanya terdapat pada masyrakat Serang-Banten pada masyarakat Sattariyah di daerah Pitalah - Tanah Datar - Sumatra Barat. Sebagian masyarakat menyebut ini sebagai kesenian tradisional milik Minangkabau namun
di ISI Padang Panjang kesenian Ini dikategorikan sebagai Kesenian Musik Vokal Islami.

Kesenian Ini hampir terdapat di seluruh kawasan indonesia yang kental dengan nilai islam, Minangkabau, Riau, Banten, Bahnkan Madura.

Asal -Usul Perjanji / Barzanji


Kebudayaan Melayu yang bersinggungan dengan Islam menghasilkan akulturasi budaya yang unik di antara keduanya. Beberapa tradisi yang dilakukan di tanah Arab, wilayah asal agama ini, tidak jarang juga merupakan bagian dari tradisi masyarakat Melayu. Salah satu di antaranya adalah pembacaan kitab karya Ja’far Al-Barzanj, yang kemudian biasa disebut barzanji (sebagian orang menyebut “berzanji” atau “berjanji”).  

Kata “barzanji” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai isi bacaan puji-pujian yang berisi riwayat Nabi Muhammad SAW (2005:110). Jika mendengar kata “barzanji”, orang akan beranggapan bahwa awalan “ber” merupakan imbuhan. 

Padahal, kata “barzanji” berasal dari kata Al-Barzanj, nama belakang penulis prosa dan puisi terkenal yang mempunyai nama lengkap Ja’far Al-Barzanj (Ediruslan Pe Amanriza & Hasan Junus, 1993:18). Syekh Ja’far Al-Barzanj bin Husin bin Abdul Karim lahir di Madinah tahun 1690 dan wafat tahun 1766. Al-Barzanj berasal dari sebuah daerah di Kurdistan, Barzinj. Nama asli kitab karangan yang kemudian lebih dikenal dengan nama Al-barzanji adalah ‘Iqd al-Jawahir yang berarti “kalung permata”. Kitab tersebut disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab Al-Barzanji berisi tentang kehidupan Nabi Muhammad dari masa kanak-kanak hingga diangkat menjadi Rasul, silsilah keturunannya, sifat mulia yang dimilikinya, dan berbagai peristiwa yang dapat menjadi teladan umat Islam (Muhammad Thohiran, 2007).   


berikut sekelumit tentang budaya Banten yang ternyata banyak juga terdapat diluar wilayah banten, semoga info ini bermanfaat.

diolah dari berbagai sumber

GOLOK CIOMAS

Golok dan Jawara adalah dua hal yang tak terpisahkan, jawara banten identik dengan golok, dan golok yang terkenal adalah golok ciomas.

Golok Ciomas ya.. siapa yang tidak kenal golok ciomas? golok ciomas terkenal tidak saja di lingkungan Banten, melainkan juga di seantero nusantara. Bahkan ke mancanegara banyak yang mengenal Golok Ciomas seperti halnya debus yang sudah identik dengan Banten.

bagi yang belum tau, mari kita ulas sedikit tentang Golok Ciomas Banten.

Ciomas, sebuah Kecamatan di Provinsi Banten yang berjarak sekitar 20 km selatan Kota Serang, bukan cuma terkenal karena ada H. Hasan Sochib (alm) dan dinasti Ratu Atut yang, Ciomas juga dikenal memiliki tradisi pembuatan golok yang merupakan budaya dan warisan religi masa silam yang masih terjaga kelestariannya hingga kini . 
Golok dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, diartikan sebagai benda sejenis parang, atau sejenis pedang yang berukuran pendek. Untuk benda semacam itu, di daerah Banten dikenal dua nama yakni golok dan bedog. Secara fisik keduanya sama dan sebangun, namun memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda. 
Bedog adalah peralatan yangpenting dalam keperluan sehari - hari seperti untuk memangkas pohon, menebang bambu, keperluan dapur dan lain-lain. Ada juga sejenis bedog yang bentuknya agak berbeda dengan bedog atau golok dimana bagian ujungnya melengkung ke bawah dandisebut congkrang atau arit. Fungsinya lebih banyak digunakan untuk menyabit rumput atau keperluan di kebun lainnya.
Sedangkan golok, umumnya difungsikan sebagai senjatayang dipakai untuk membela diri atau untuk keperluan darurat. Para pendekar di daerah banten dan sekitarnya dikenal sebagai jawara, biasanya memiliki senjata utama berupa golok, begitu juga dengan masyarakat daerah Ciomas yang mempunyai golok yang terkenal yang disebut Golok Ciomas. Bagi masyarakat Ciomas, golok adalah murid dan tempaan adalah gurunya.
Di zaman perjuangan atau zaman penjajahan, golok banyak digunakan sebagai senjata untuk melawan penjajah. Para pendekar di daerah Banten dan sekitarnya biasanya memiliki senjata utama berupa golok. Dalam cerita dan komik-komik tentang pendekar, terungkap bahwa golok adalah bagian yang tidak terpisahkan. dan mereka biasanya member nama khusus terhadap golok yang mereka miliki. Nama itu biasanya menunjukkan keistimewaan golok tersebut.

Popularitas Golok Ciomas muncul karena banyak hal, terkenal karena keistimewaannya dari segi fungsi dengan ketajamannya yang luar biasa. Konon, karena dibuat secara khusus, kulit yang terluka oleh Golok Ciomas sedikit saja sukar sembuh bahkan dapat membusuk dan menyebabkan kematian. Seolah golok itu memiliki racun yang maha dahsyat hasil karya seorang empu yang sakti. 
Selain itu Golok Ciomas juga diyakini memiliki nilai mistis dimana proses pembuatannya di masa silam melalui tahap - tahap ritual yang hingga sekarang masih terus terjaga sama halnya dengan keris di Jawa. Banyak yang mempercayai bahwa Golok Ciomas sangat ampuh untuk "menaklukkan" musuh, yang pengertiannya adalah musuh bisa "ditaklukkan" tanpa harus mengeluarkan golok dari sarangka-nya dan keyakinan itu berkembang luas di masyarakat, adapun kebenarannya, hanya Allah yang tahu.
Golok Ciomas adalah salah satu jenis senjata khas Banten, yang hingga kini proses pembuatannya masih dilakukan secara turun temurun. Golok Ciomas dibuat atau ditempa dengan besi sakti berupa palu atau godam. Godam sakti itu dijuluki dengan nama si Denok. Bentuk si Denok sendiri, sepintas biasa saja yaitu palu seukuran kepalan tangan dengan gagang kayu, namun nama si Denok identik dengan seorang perempuan dan nama si Denok sendiri berdasarkan dari cerita rakyat.
Dari berbagai sumber diantaranya:
golokciomas.wordpress.com dan bantenmistis.blogspot.com

Batik Banten

Batik Banten? Agak aneh mungkin mendengarnya,
Karena yang selama ini kita tahu adalah batik merupakan kain dari jawa, khususnya Yogyakarta, Surakarta, Solo dan Pekalongan yang paling terkenal.
Konon SEBELUM batik seperti yang sekarang dikenal ada, yaitu teknik menghias dengan menahan warna memakai lilin malam, di Indonesia sudah dikenal "batik" dengan teknik lebih sederhana. Yaitu Kain simbut di Banten, dan kain ma'a dari Toraja, Sulawesi Selatan, memakai teknik menahan warna juga. Sebagai penahan warna pada kain simbut dipakai nasi pulut yang dilumatkan dan dicampur air gula. Kain lalu dicelupkan ke dalam cairan pewarna yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Kemudian nasi pulut dikerok dan bagian yang ditutupi nasi pulut tetap tinggal putih seperti warna asli kain.

meskipun tidak ada contoh kain yang tertinggal saat ini kecuali kain dari abad ke-19. Salah satunya adalah kain simbut yang terdapat di Museum Nasional.

yang menjadi ciri khas utama batik Banten adalah motif datulaya. Motif ini memiliki dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan, motif dasar berwarna biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu, pada dasar kain berwarna kuning. "Nama datulaya ini diambil dari tempat tinggal pangeran. Datu itu artinya pangeran, laya artinya tempat tinggal," jelas Uke.

Uke kurniawan adalah pengusaha batik banten yang merupakan wakil ketua dalam penelitian batik banten.

Sekarang tinggal bagaimana pemerintah memelihara, mengembangkan dan mengedukasi kepada masyrakat banten khusunya, dikarenakan sebagian besar masyrakat Banten tidak mengetahui bahwa daerahnya pun memiliki Kain tradisonal Batik yaitu kain simbut yang terus terang sayapun tidak pernah melihat dan bahkan baru pertama kali mendengar kain tersebut.
Dengan harapan dimasa yang akan datang Budaya dan Peninggalan Banten dapat terus digali dan dipelajari lebih jauh untuk kemaslahatan kita bersama.

Diolah dari sumber: www.batikindonesia.info dan heritageofjava.com

Jawara Banten

Jawara dikenal sebagai seorang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatan-kekuatan untuk memanipulasi kekuatan supranatural (magic), seperti penggunaan jimat, kekebalan tubuh dan sebagainya sehingga ia disegani oleh masyarakat. Sosok seorang jawara memiliki karakter yang khas. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Karena itu, bagi sebagian masyarakat, jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian, agresif, sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong), terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok, untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan supranatural.

Kepala jawara memiliki padepokan sebagai tempat pengemblengan “anak buah”. Para jawara pun memiliki jaringan yang melewati batas-batas geografis daerah tempat tinggalnya.

jawara merupakan sumber kepemimpinan tradisional informal, terutama masyarakat pedesaan. Dalam masyarakat yang masih tradisional, sumber-sumber kewibawaan pemimpin terletak pada: (1) pengetahuan (baik tentang agama dan masalah keduniawian/sekuler atau kedua-duanya), (2), kesaktian, (3), keturunan dan (4) sifat-sifat pribadi.


Sementara itu, peranan sosial jawara adalah lebih cenderung kepada pengolahan kekuatan fisik dan “batin,” sehingga dalam masyarakat Banten peran-peran tradisional yang sering dimainkan para jawara adalah menjadi jaro (kepala desa atau lurah), guru ilmu silat dan ilmu “batin” atau magis, satuan-satuan pengamanan. Peranan tersebut bagi masyarakat memiliki signifikansi yang tinggi. Namun demikian, saat ini peranan para jawara dalam sosial, ekonomi dan politik dalam kehidupan masyarakat Banten sangat menentukan. Tentunya, demikian ini mengalami peningkatan peranan yang signifikan dibandingkan dengan peranan masa-masa lalu dalam sejarah kehidupan masyarakat Banten, sehingga dapat menentukan masa depan kesejarahan masyarakatnya

Pada masa Orde Baru jawara dijadikan alat oleh Golkar sebagai satuan pengamanannya di Banten dan sebagai alat politik untuk merekrut anggota. Bahkan, ketua umumnya sendiri dijadikan pengurus partai politik tersebut. Namun, perubahan politik yang besar yang terjadi di negeri ini pasca reformasi, juga ikut merubah pandangan politiknya. Mereka sekarang nampaknya ingin bersifat lebih netral, dengan tidak berafiliasi pada partai tertentu. Oleh karena itu, apabila ada tawaran-tawaran untuk menjaga keamanan atau membantu polisi, mereka lebih terbuka dan menerima tawaran tersebut tanpa lagi melihat afiliasi politik.


Perubahan sosial yang cukup besar yang terjadi pada rakyat Banten telah merubah persepsi masyarakat tentang peran-peran jawara. Bahkan, sebagian masyarakat ada yang menginginkan istilah jawara dihilangkan, sehingga citra budaya “kekerasan” yang selama ini melekat terhadap masyarakat Banten bisa dihilangkan. Meskipun demikian, peran-peran sosial dan politik yang dimainkan oleh orang-orang yang selama ini dikenal “jawara” saat ini sangat besar di wilayah Banten. Para tokoh jawara, yang kini menamakan dirinya pendekar, menduduki sektor-sektor penting dalam bidang ekonomi, sosial dan politik di Banten. [21]


yakni perubahan nama dari “jawara” ke “pendekar.” Secara substantsial nampaknya belum banyak berubah, bahkan budaya tersebut justru digunakan oleh sekelompok orang untuk meraih kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik.

Sumber: sahabatsilat.com

Benarkah Orang Banten suka Poligami

Benarkah Orang Banten itu sering kawin (poligami)


Sebelumnya mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud mempromosikan Poligami (jereh wong banten e meh Wayuh) atau meng-generalisasikan bahwa semua orang Banten berprilaku seperti itu.
Dan untuk para wanita jangan khawatir karena tidak semua lelaki Banten melakukan hal tersebut. Masih banyak yang setia hanya dengan satu pasangan, bener ga kang?

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya ketika beberapa tahun yang lalu bertamu kerumah temen wanita saya yang pada waktu itu saya suka sama dia (cieeeh, pedekate nih ceritanya, jadi curcol).
Dan pengalaman saya ini jauh sebelum maraknya perdebatan tentang Poligami yang salah satunya karena ada Da’i kondang yang melakukan hal tersebut.

Ceritanya begini, waktu itu sehabis jalan, saya mengantarkan dia pulang, kebetulan ayah temen saya tersebut ada dirumah. Akhirnya mau ga mau saya ngobrol dengan beliau. Setelah ngobrol kesana-kemari beliau bertanya asal saya, dan diluar dugaan ketika saya jawab dari Serang Banten.
Beliau terus berkata bahwa pernah ke Serang dan Pandeglang, dan punya beberapa temen dan kenalan orang sana.
Oh iya Bapak ini adalah orang Jawa tengah.
Dan yang paling mengejutkan beliau berkata dengan nada bertanya;

“ katanya orang Serang itu suka kawin yah, punya istri lebih dari satu?”

Bisa kebayangkan, gimana perasaan saya waktu itu yang notabene suka ama anaknya?
Wis sebisa mungkin saya harus pake alasan yang kuat untuk membuktikan bahwa tidak semuanya seperti itu.

Memang pendapat tersebut ada benarnya juga dikarenakan di lingkungan tempat tinggal saya pun ada yang mempunyai istri lebih dari satu, termasuk dua orang teman kerja saya, bahkan ada seorang tukang becakpun memiliki dua istri, tapi kalau di bilang orang Serang suka kawin itu berarti menggeneralisasikan bahwa semua atau sebagian besar orang Serang-Banten berprilaku seperti itu. Padahal hanya segelintir orang saja yang seperti itu yah mungkin karena orang banten cenderung melakukan dengan terang-terangan bandingkan dengan orang jakarta misalnya kebanyakan dari mereka melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi ( istri simpanan ) tidak sepengetahuan istri pertama, awalnya kebanyakan dari merekapun sembunyi-sembunyi setelah ketahuan istri pertama banyak yang akhirnya menceraikan istri mudanya tersebut dan tidak sedikit juga yang tetap mempertahankan ke-duanya dan anehnya mereka kedua istrinya akrab dan tidak saling bermusuhan.

Begitulah, benar tidaknya hal tersebut sayapun tidak tahu..

Jadi benarkah orang Banten senang berpoligami?

Debus, Budaya Banten yang terabaikan.

from Flickr

Pernah mendengar kata Debus, saya yakin hampir semua orang pernah mendengar bahkan mungkin ada yang pernah menyaksikan kesenian itu, kesenian yang sekaligus merupakan budaya Banten tersebut lambat laun telah di tinggalkan, saya berani bertaruh generasi saya bahkan generasi di bawah saya yang asli pribumipun banyak yang hanya mendengar tanpa pernah menyaksikan sendiri kesenian tersebut. Saya pribadi pun hanya pernah menyaksikan secara langsung 2 kali itupun saat masih belia.
Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain. ( Wikipedia )
Dahulu kesenian ini sering dimainkan saat acara-acara keresidenan, bahkan tidak jarang debus sering menjadi hiburan pada saat pemilihan kepala desa, hajatan di kampung-kampung dsb.

Kesenian yang identik dengan silat dan sering memamerkan kekebalan tubuh ini memang semakin sulit kita temukan, mungkin karena sedikitnya minat pemuda banten untuk menjadi seorang pendekar Debus, ditambah jarangnya pertunjukan debus ini dimainkan di suatu event tertentu, sehingga mereka para pendekar debus enggan untuk menekuni profesi ini.

Bagaimanapun Debus adalah seautu kesenian dan Budaya Banten yang harus tetap kita jaga dan lestarikan, jangan sampai kesenian ini jatuh dan diaku oleh Negara tetangga kita.

Bisakah wong Serang berbahasa tanpa “Geh”

Berawal dari pertanyaan seorang teman dari mana asal saya, dan ketika saya sebut kata Serang-Banten.. teman tersebut langsung menyebut kata “Geh” lebih jelasnya begini: wah yang biasa ngomongnya pake “Geh” itu ya?! Ga ada yang aneh tapi teman tersebut berkata seperti itu sambil ketawa, saya pun tidak tahu maksud dari teman saya tersebut, apakah sebuah ejekan atau hanya bercanda, atau mungkin kata “geh” tersebut merupakan trademark dari orang Banten khususnya orang Serang.

meskipun semenjak kuliah dan menetap di jakarta saya telah beradaptasi dan menghilangkan kata “geh” dalam berbahasa saya, tapi bagaimanapun juga saya adalah keturunan asli Serang dan ketika ada seseorang yang menyinggung kata tersebut saya jadi bertanya-tanya, apa yang salah? Apakah seharusnya kata tersebut dihilangkan? Atau apakah kita harus tetap memelihara kata tersebut yang merupakan sebuah kebiasaan atau bahkan budaya dari masyrakat Serang-Banten.?

Apabila kata “geh” tersebut merupakan sebuah budaya dan kebiasaan masyrakat Serang, apakah sepantasnya kita balik mempertanyakan bagi mereka yang Asli wong Banten yang menghilangkan kata “geh” dari pembendaharaan kata mereka, bahwa mereka secara tidak langsung telah menghilangkan salah satu budaya Banten?

Advertisment